Wednesday, September 25, 2013

Marketing Politik

Marketing  Politik
Marketing politik adalah variasi dari kebijakan komunikasi pemasaran untuk mempromosikan seseorang atau proyek politik dengan menggunakan model teknik pemasaran komersial sebagai metode yang digunakan oleh organisasi-organisasi politik untuk mencapai tujuan dalam hal program politik atau mempengaruhi perilaku para pemilih dengan propaganda.





Marketing politik dapat digunakan juga sebagai cara mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian (personality) kandidat dalam pemilihan umum pada masyarakat luas yang akan memilihnya (Ibham : 2008).







Pemilih rasional : pemilih yang menggunakan akal pikirannya dalam memilih. Pemilih memperhitungkan sejauh mana baik untuk dirinya dan melihat jauh kedepan. Memiliki orientasi yang tinggi pada pemecahan masalah politik atau “policy-problem-solving” dan berorientasi rendah untuk faktor ideologi. Lebih mengutamakan kinerja partai politik atau calon kandidat dalam program kerjanya.

Pemilih kritis : perpaduan antara tingginya orientasi pada kemampuan partai politik atau seorang kontestan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa maupun tingginya orientasi mereka akan hal-hal yang bersifat ideologis.

Pemilih tradisional : memiliki orientasi ideologi yang tinggi dan tidak melihat kebijakan partai politik atau seorang kandidat sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan. Sangat mengutamakan kedekatan sosial-budaya, nilai, asal-usul, faham, dan agama sebagai ukuran untuk memilih sebuah partai politik. 

Pemilih skeptis : tidak memiliki orientasi ideologi cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau kandidat, juga tidak menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Keinginan untuk memilih sangat kurang, cenderung untuk tidak memilih karena ikatan ideologis skeptis sangat rendah.

Tujuan marketing dalam politik menurut Gunter Schweiger dan Michaela Adami :
·        Untuk menanggulangi rintangan aksesibilitas
·        Memperluas pembagian pemilih
·        Meraih kelompok sasaran baru
·        Memperluas tingkat pengetahuan publik
·        Memperluas preferensi program partai atau kandidat
·        Memperluas kemauan dan maksud untuk memilih
Dampak negatif dari marketing politik :
·        Amerikanisasi dunia politik
·      

    Kehidupan berpolitik hanya melahirkan komersialisasi politik yang mereduksi arti berpolitik itu sendiri
·        Menjauhkan masyarakat atas ikatan ideologi sebuah partai dengan massa/konstituennya 




Kesimpulan : Di Indonesia masih sangat banyak pemilih tradisional, mereka cenderung memilih berdasarkan kedekatan sosial-budaya, nilai, asal-usul, faham, dan agama sebagai ukuran untuk memilih sebuah partai politik atau kandidat. Mereka tidak melihat bagaimana citra,pandangan masyarakat luas serta kinerja partai politik atau calon kandidat dalam program kerjanya. Para pemilih tradisional akan dengan mudah diombang-ambingkan oleh segala bujuk rayu politisi. Mereka akan dengan mudah termakan oleh janji-janji pada saat kampanye.Saat terpilih dan berhasil menang, kandidat tersebut tidak bisa menjalankan  serta mewujudkan janjinya sehingga membuat para pemilih tersebut kecewa dan merasa menyesal karena telah memilih kandidat tersebut atau partai politik tersebut.

  

No comments:

Post a Comment