Marketing Politik
Marketing politik adalah variasi dari
kebijakan komunikasi pemasaran untuk mempromosikan seseorang atau proyek
politik dengan menggunakan model teknik pemasaran komersial sebagai metode yang
digunakan oleh organisasi-organisasi politik untuk mencapai tujuan dalam hal
program politik atau mempengaruhi
perilaku para pemilih dengan propaganda.
Marketing politik dapat digunakan juga sebagai
cara mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian (personality) kandidat
dalam pemilihan umum pada masyarakat luas yang akan memilihnya (Ibham : 2008).
Pemilih rasional : pemilih yang menggunakan
akal pikirannya dalam memilih. Pemilih memperhitungkan sejauh mana baik untuk
dirinya dan melihat jauh kedepan. Memiliki orientasi yang tinggi pada pemecahan
masalah politik atau “policy-problem-solving” dan berorientasi rendah untuk
faktor ideologi. Lebih mengutamakan kinerja partai politik atau calon kandidat
dalam program kerjanya.
Pemilih kritis : perpaduan antara tingginya
orientasi pada kemampuan partai politik atau seorang kontestan dalam
menyelesaikan permasalahan bangsa maupun tingginya orientasi mereka akan
hal-hal yang bersifat ideologis.
Pemilih tradisional : memiliki orientasi
ideologi yang tinggi dan tidak melihat kebijakan partai politik atau seorang
kandidat sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan. Sangat
mengutamakan kedekatan sosial-budaya, nilai, asal-usul, faham, dan agama
sebagai ukuran untuk memilih sebuah partai politik.
Pemilih skeptis : tidak memiliki orientasi
ideologi cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau kandidat, juga tidak
menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Keinginan untuk memilih
sangat kurang, cenderung untuk tidak memilih karena ikatan ideologis skeptis
sangat rendah.
Tujuan marketing dalam politik menurut Gunter
Schweiger dan Michaela Adami :
·
Untuk menanggulangi rintangan aksesibilitas
·
Memperluas pembagian pemilih
·
Meraih kelompok sasaran baru
·
Memperluas tingkat pengetahuan
publik
·
Memperluas preferensi program
partai atau kandidat
·
Memperluas kemauan dan maksud
untuk memilih
Dampak negatif dari marketing politik :
·
Amerikanisasi
dunia politik
·
Kehidupan
berpolitik hanya melahirkan komersialisasi politik yang mereduksi arti
berpolitik itu sendiri
·
Menjauhkan
masyarakat atas ikatan ideologi sebuah partai dengan massa/konstituennya
Kesimpulan : Di Indonesia masih sangat banyak
pemilih tradisional, mereka cenderung memilih berdasarkan kedekatan
sosial-budaya, nilai, asal-usul, faham, dan agama sebagai ukuran untuk memilih
sebuah partai politik atau kandidat. Mereka tidak melihat bagaimana citra,pandangan
masyarakat luas serta kinerja partai politik atau calon kandidat dalam program
kerjanya. Para pemilih tradisional akan dengan mudah diombang-ambingkan oleh
segala bujuk rayu politisi. Mereka akan dengan mudah termakan oleh janji-janji
pada saat kampanye.Saat terpilih dan berhasil menang, kandidat tersebut tidak
bisa menjalankan serta mewujudkan
janjinya sehingga membuat para pemilih tersebut kecewa dan merasa menyesal
karena telah memilih kandidat tersebut atau partai politik tersebut.
kartunindonesia.blogspot.com , 28/09/13






No comments:
Post a Comment