Wednesday, September 4, 2013

Ekonomi Politik Media



Kuliah dan artikel pertama kami disampaikan oleh Bapak Eko Harry Susanto dengan materi mengenai “Ekonomi Politik Media”.

Source : http://kapita-fikom-untar-vinia2012.blogspot.com/2012_06_01_archive.html , 4/9/13



Perkembangan media massa menjadi institusi ekonomi melahirkan disiplin ilmu yang disebut ekonomi media (media economics). Ekonomi media memandang media sebagai industri atau institusi ekonomi yang berupaya mencari keuntungan. 

Media secara umum bisa didefinisikan sebagai sarana atau perantara atau penyebar dalam suatu proses komunikasi. Melalui media, pesan terdistribusi ke khalayak.

Dalam konteks ekonomi, media adalah institusi bisnis atau intsititusi ekonomi yang memproduksi dan menyebarkan informasi, pengetahuan, pendidikan, dan hiburan kepada konsumen yang menjadi target. Yang termasuk media, antara lain televisi, radio, surat kabar, majalah, tabloid, buku, iklan, public relations, film, serta rekaman. Dalam  konteks ekonomi media, televisi, radio, surat kabar, dan media lainnya tentu harus dipandang sebagai industri atau institusi bisnis.


Source : http://ec.europa.eu/digital-agenda/en/eu-media-futures-forum  ,4/9/13




Dalam institusi ekonomi, praktiknya media beroperasi berdasar rasionalitas bisnis. Harus dibedakan antara bisnis dan idealisme yang terdapat dalam media. Seringkali investasi mengubah pola idealisme yang diciptakan oleh media, sehingga media menjalankan pola bisnis bukan idealisme yang dijunjung tinggi.

Kehadiran ekonomi media menciptakan tantangan dan kesempatan baru yakni demokrasi media. Ruang publik bebas menjadi bagian dari hak istimewa media. Hal ini seringkali dihilangkan karena adanya birokrasi. Salah satunya dengan adanya demokrasi media ini, media menjadi bagian dari cermin masyarakat, dan menjadi upaya mewujudkan kedaulatan publik.

Banyak pengusaha besar yang menanamkan modalnya dalam bisnis media massa. Para pengusaha yang terjun ke industri media tentu berharap modal yang sudah mereka tanamkan bisa kembali, bahkan menghasilkan keuntungan. Terjunnya pengusaha besar dalam industri besar dalam industri media memunculkan fenomena konglomerasi media.

                                                          





Dalam pengambilan keputusan, hal tersebut juga dapat mempengaruhi berita dan informasi yang akan di sampaikan pada masyarakat. Pemilik media kadang juga dapat turun tangan dalam penyiaran, mengatur bagian mana yang harus ditayangkan / siarkan dan yang tidak boleh ditayangkan. Tentu itu membuat jurnalis tidak leluasa dalam memberikan informasi pada masyarakat dan tidak menjadi transparan.


Problem media :





Dibalik kesempatan ruang publik bebas, Media menjadi terkekang dengan sisi orientasi keuntungan yang dikehendaki perusahaan dalam menjalani roda organisasi. Hal ini menciptakan problem yang mulai bermunculan dalam menjalani bisnis media. Problem media yang berlangsung di lapangan diantaranya orientasi bisnis/motif keuangan, profesionalisme jurnalis dan institusi, serta tidak independen dan transparan.
Informasi yang dihasilkan media bermacam-macam. Mereka menghasilkan informasi yang ditentukan dari nilai tukar, guna perluasan pasar, dan kepentingan ekonomi pemilik media. Media dalam dunia praktiknya lebih mengarahkan perhatian khalayak pada iklan daripada informasi itu sendiri sesuai dengan tujuan politik ekonomi media.
Iklan dalam media merupakan suatu akses untuk mendapatkan keuntungan bagi suatu media. Strategi iklan adalah aktivitas mempromosikan produk agar dikenal konsumen. Makin kompetitif pasar, makin dibutuhkan strategi dalam mempromosikan produk. Di tengah persaingan yang makin ketat, stasiun-stasiun televisi berlangganan di Indonesia makin strategis dalam mempromosikan produk,  mulai promosi di mall,  door to door, hingga paket-paket berlangganan dengan harga murah.


source : http://www.rightcopywriter.com/blog/advertising-2/advertising-trends-to-watch-out-for-in-2013.html  , 4/9/13




Saat ini, media tidak hanya digunakan untuk memberikan berita dan informasi melainkan juga dapat berhubungan erat dengan politik. Contohnya seperti iklan politik dalam media TV saat kampanye.
Salah satu sasarannya dari politik ekonomi adalah audience sebagai pasar. Hubungan dampak audience sudah diperhitungkan agar memperoleh hasil ekonomis. Di dalam hal ini juga berpengaruh dari stratifikasi social ekonomi untuk produksi informasi. Mereka memanipulasi sistem memilihi melihat dan mendengar media dengan tujuan orientasi bisnis.
Selain itu semua Teori Media Politik Ekonomi diatur dalam sistem hukum. Menurut Dennis Mcquail, “ Teori Media Politik Ekonomi adalah ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi. Media bagian dari sistem ekonomi yang bertalian erat dengan sistem politik. Salah satu unsur politik media yakni dalam media terdapat pers yang memiliki keteraturan sistem yang diatur dalam UU No. 40/1999 tentang Pers.




Source : http://www.bisnis-jabar.com/index.php/berita/uu-pokok-pers-polda-jabar-sosialisasikan-ke-polres  , 4/9/13


Dalam undang-undang ini pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan, mereka juga memperoleh saham dan laba bersih, sehingga mereka akan memberikan sumbangsih dan loyalitas tinggi kepada media. 



Kesimpulan ( Diskusi Kelompok ) :

Dari Analisa tersebut, memang media membuat pengaruh tersendiri bagi masyarakat. Walaupun media merupakan sumber informasi yang pokok bagi masyarakat tetapi terkadang media juga mengubah paradigma dan pemikiran masyarakat kepada pandangan negatif .  Masyarakat terlalu percaya dengan apa yang di informasikan oleh media massa baik itu cetak maupun elektronik. Melihat permasalahan yang di hadapi bangsa indonesia atas rencana kenaikan BBM, dalam hal ini media begitu dominan menginformasikan Kontroversi tersebut. Ini di sebabkan karena adanya unsur- unsur politik didalamnya.

No comments:

Post a Comment